Kini, pemerintah Indonesia berencana akan menjadikan Indonesia dalam zona satu waktu menjadi GMT +8 untuk kedaulatan, daya saing bangsa dan percepatan ekonomi.
Seperti ditulis situs Menko Perekonomian RI, Kadiv Humas, Promosi Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) mengatakan untuk mempercepat dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia akan menyatukan waktu Indonesia menjadi GMT +8 atau waktu Indonesia bagian tengah saat ini. Pasalnya penyatuan waktu ini akan mendorong daya saing Indonesia dalam politik-sosial, ekonomi dan ekologi nasional.
"Banyak negara yg merubah ketentuan waktunya, Korea Selatan yang seharunya GMT +8 merubah GMT+9, China harusnya menjadi 3 zona merubah menjadi satu waktu dalam GMT +8 demi kepentingan bisnis dan militer," ujarnya.
Menurutnya dampak dari pembagian zona waktu menjadi 3 membuat beberapa aktifitas ekonomi, politik, sosial menjadi tidak efisien. Ia mencontohkan kegiatan Bursa efek Indonesia hanya berfokus pada Indonesia barat, sehingga wilayah timur dan barat tidak memanfaatkan secara optimal. Pasalnya ketika BEJ dibuka pukul 9 wilayah timur sudah pukul 11 siang.
Lebih lanjut ia mengatakan manfaat adanya efisiensi tersebut maka akan mendapatkan manfaat konvesional 15 persen dari nilai transaksi harian saat ini. Dari sisi koordinasi dengan pemerintah pusat, sambungnya juga akan lebih optimal karena tidak ada perbedaan waktu antara pemerintah pusat dan daerah lainnya.
Dengan perubahan ini, lanjutnya, dapat meningkatkan pendampatan domestik bruto nasional dan PDB daerah. Karena meningkatnya kegiatan ekonomi nasional. "Kita akan terjadi penurunan PDB akibat kebijakan energi, tapi kita akan dapat pertambahan pertumbuhan lebih tinggi akibat perubahan waktu ini,"tuturnya.
Ia memaparkan, ketika perubahan waktu ini menjadi 3 zona diterapkan di Bali tahun 1987, seharusnya Bali masuk ke waktu timur di geser ke arah ke tengah untuk kepentingan pariwisata dan ekonomi. Pasalnya dengan perbedaan waktu 2 jam (WIT) banyak wisata Jepang dan Australia cenderung lebih cepat pulang agar tidak larut malam sampai di negaranya. Dengan pegeseran waktu ke WITA, wisata Jepang dan Australia menginap lebih lama satu hari, yang memberi keuntungan ekonomi lebih besar.
Kalau nginap semalam lagi, tidak kecil. Kalau 100 ribu orang dikali US$ 100 berapa? Banyak sekali itu baru hotel, jadi bisa menimbulkan perekonomian lebih kuat. Batam saja setiap tahun hampir Rp. 100 miliar (pendapatannya) hanya dari transaksi, padahal harusnya turis-turis Singapur yang datang ke Batam karena perbedaan waktu harus pulang lebih awal karena terlambat kerja besok paginya gara-gara kita terlambat sejam mereka harus pulang dulu. Tapi kalau semalam turis-turis tetap di Batam berapa hotel yang penuh pada minggu malamnya demikian juga yang lain-lainnya," ungkapnya.
Ia berharap penyatuan zona waktu ini dapat dilakukan segera mungkin. "Harapan kita lebih cepat lebih bagus, bisa tidak ini membonceng ekonomi kita, yang lagi ketekan BBM, kalau ini bisa membonceng produktifitas nasional apa salahnya," tegasnya.
Hal senada juga di ungkapkan oleh Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur dan pengembangan wilayah Lucky Eko Wuryanto, mengatakan Indonesia merupakan pasar besar namun dengan perbedaan waktu membuat pasar tidak bergerak serentak sehingga tidak efisien. Menurutnya penyatuan waktu ini akan lebih banyak keuntungannya untuk ekonomi, politik, sosial dan kedaulatan negara dibandingkan dengan kerugiannya. Namun dibutuhkan sosialisasi.
Sementara Chief Ekonomi BNI Ryan Kriyanto menyambut baik rencana pemerintah untuk menyatukan zona satu waktu. Menurutnya, Indonesia negara kepulauan, kalau ada wacana seperti itu akan lebih baik.
Lebih lanjut ia mengungkapkan BNI mempunyai lima cabang diluar negeri yakni London, Jepang, Hongkong, Singapura dan AS. Dengan adanya penyatuan waktu maka akan lebih menguntungkan BNI.
Kalau ada penyatuan waktu maka kendala-kendala karena faktor waktu menjadi hilang itu mungkin yang dimaksud denga pemerintah," pungkasnya.

Post a Comment
Post a Comment